Showing posts with label Pendidikan. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan. Show all posts

Wednesday, December 21, 2016

Singapore Lead On Science, Reading and Math Literacy on PISA 2015

Singapore Lead On Science, Reading and Math Literacy on PISA 2015
Student Life in Singapore
source pic: hotcourseabroad.com

The result of PISA (Program for International Student Assesment) has released on December 6, 2016. Asia must proud because there was some countries in asia standing in top ten like Singapore, Hongkong, Japan, Taiwan, China, and Vietnam. Top positition this years is Singapore, Singapore still leading for the global assesment of problem solving skill. It shows that student ( 15 years old) in Singapore get good mark in all areas of mathematic, science and reading literacy. 

PISA is assesment program that conducted by Organisation and Development which conducted every three years. It prove that 15 years in Singapore are quick learners, highly inquisitive, able to solve unstructured problems in unfamiliar context and also highly skilled in generating new situation/condition by observing and exploring.

I think the study show that (Singapore student) are thinking, open, brave and have inisiative. Hang Swee Keat also said that important skill and trait for today’s world cannot be obtain through rote learning. Rote by rote is an old learning that only make the student feel boring and doesn’t have problem solving skill. Rote by rote is only create student as thinking student not as problem solver. But we know have good or high on some subject is not ensure that student have good jobs after they graduated.

Rote by rote is not effective learning, this  methods only make the student confuse, information is only  temporary. Time by time the information will fade if the student not repeat the information anymore. Back to Singapore, in the last PISA test in 2012 Singapore student were ranked second on mathematics and third in the science and reading. 

PISA 2015 conducted last years from 72 countries in the world. In Singapore there are 5825 randomly selected to participate this test, its consist of all 166 public school, 290 student from private school, international school and one madrasah. The test is compute based test. Not only answer the question, the student also must filled up a survey questionnaire on their background, including learning habits and motivation.

Singapore student are not just applying knowledge and skill, but also in analysing, reasoning, and communicating as they solve novel problem. Here top score for each area like science, reading and math.

Top Score In PISA 2015.

Science
 
Singapore    556
Japan          538
Estonia        534
Taiwan        532
Finland        531
Macao        529
Canada       528
Vietnam      525
Hongkong   523
China         518

Top score for  reading area

Singapore       535
Hongkong        527
Canada            527
Finland            526
Ireland             521
Estonia            519
South Korea   517
Japan              516
Norway          513
New zealand   509

Top score for math area

Singapore    564
Hongkong    548
Macao        544
Taiwan        542
Japan          532
China          531
Korea         524
Swiss          521
Estonia       520
Canada       516
 
How about Indonesia? Indonesia get improve on reading, literacy, science and math area. On PISA 2012 indonesia get score 337 for reading literacy and in PISA 2015 Indonesia get score 350. In math area indonesia get improve 17 poin compare than last test. On science indonesia get score 359, its better than three years ago (PISA 2012) that only 350.


Tuesday, June 14, 2016

Less Is More Merupakan Sistem Kunci Pendidikan Di Finlandia


pendidikan di finlandia

Jika sebelumnya saya menuliskan tentang 4 Resep Kunci Sukses Pendidikan di Finlandia. Pada kesempatan ini saya akan mengulas lebih rinci tentang pembuktian slogan less is more yang mampu membawa Finlandia menjadi negara yang panutan untuk dunia pendidikan.

Mungkin masih ada anggapan bahwa untuk menciptakan suatu pendidikan yang sukses harus dengan jumlah kelas yang  banyak, jumlah durasi jam pelajaran yang panjang, banyak pekerjaan rumah, banyak tugas, banyak pertemuan, banyak tes dan banyak konten pelajaran. Anggapan dengan banyaknya berbagai aspek di atas merupakan sesuatu yang keliru, hal demikian justru akan menimbulkan masalah khusus bagi guru dan masalah stres pada murid di sekolah. Namun, Finlandia telah membuktikan bahwa dengan slogan less is more mampu menobatkan negaranya menjadi salah satu negara dengan sistem pendidikan terbaik di dunia. Berikut ini beberapa ulasan saya mengenai less is more pada sistem pendidikan Finlandia yang sudah terbukti kualitasnya.

Sedikit Sekolah Formal= Lebih Banyak Pilihan
(Less formal Class = More Option)

Murid di Finlandia mulai sekolah formal saat memasuki usia 7 tahun. Ya, finlandia hanya mengijinkan anak yang telah berumur 7 tahun yang boleh mengeyam pendidikan setara sekolah dasar. Meningat usia 7 tahun murid-murid di sini dibebaskan untuk bermain dan mengeksplor kemampuan mereka dibandingkan hanya diam dan duduk manis dibangku mereka masing-masing.  Apakah mereka akan ketinggalan pelajaran ketika orang tua baru memasukan anaknya sekolah saat berumur 7 tahun? Ternyata jawabannya salah, patokan usia 7 tahun ini merupakan usia yang sangat cocok dimana anak mulai siap dan focus dalam menerima pelajaran.  Uniknya di Finlandia setelah mereka menginjak usia 16 tahun maka mereka di beri keleluasan untuk memilih beberapa pilihan sekolah sebagai berikut

Upper Secondary Program ini merupakan program belajar yang dilakukan selama jangka waktu tiga tahun dan dilanjutkan dengan menempuh ujian matrikulasi untuk menentukan apakah mereka akan diterima di Universitas atau tidak. Biasanya anak-anak yang mengambil program ini berdasarkan spesialis  dan saat ingin mendaftar ke insititusi. Program Upper Secondary Program ini merupakan perpaduan antara sekolah menengah dan kuliah. Pada tahun 2015 program yang satu ini mampu menarik 40% dari jumlah murid di Finlandia

Vocational Education ini merupakan program jangka waktu tiga tahun yang melatih murid dengan berbagai jenis karir, namun sekolah tetap memberikan pilihan pada murid untuk mengikuti ujian matrikulasi untuk dapat memasuki jenjang universitas. Dari program ini ada yang bisa langsung kerja atau ada pula yang melanjutkan studi ke sekolah teknik untuk mendapatkan pelatihan lebih lanjut. Program vokasi ini menyerap 60% pelajar di Finlandia. Sedangkan untuk murid yang langsung memasuki dunia kerja jumlahnya sangat kecil yakni hanya 5%

Sedikit Waktu: Istirahat Banyak
(Less Time In Scholl = More Rest)

Murid di Finlandia menghabisakan sedikit waktu untuk mengerjakan tugas rumah dan berdasarkan data yang dirilis oleh Organisation for Economic Cooperation and Development tentang jumlah jam untuk pekerjaan rumah perminggunya untuk anak usia 15 tahun di seluruh dunia. Terungkap bahwa rata-rata murid di Finlandia hanya menghabiskan waktu sekitar 2.8 jam perminggunya untuk mengerjakan pekerjaan rumahnya, sedangkan murid di Amerika menghabiskan waktu 6.1 jam perminggunya. Murid-murid biasanya mengikuti pembelajaran mulai jam 09.00 atau 09.45, Helsinki membuat peraturan ini karena berdasarkan penelitian bahwa anak kecil membutuhkan kualitas tidur di pagi hari. Sekolah akan berakhir pada pukul 02.00 atau 02.45. 

Murid Finlandia memiliki jadwal yang selalu berbeda dan selalu berubah. Biasanya sekolah menyelenggarakan tiga sampai empat kelas perharinya, bisa dikatakan sekolah dasar Finlandia hanya  membutuhkan waktu sekitar 75 menit  perharinya ditambah dengan beberapa jeda istirahat setiap pergantian pembelajaran.  Finlandia juga mewajibkan setiap pembelajaran selama 45 menit maka murid di wajibkan untuk istirahat selama 15 menit. 

Kurang jam Pembelajaran: Lebih Untuk Waktu Perencanaan
(Fewer Instruction Hours = More Planning Time

Guru memiliki waktu yang sangat singkat. Berdasarkan data yang dirilis oleh OECD (Organization for Economic Cooperation and Development) mengungkapkan bahwa rata-rata guru di Finlandia hanya memiliki jam ajar sebanyak 600 jam pertahunnya atau bisa dikatakan guru hanya mengajar sekitar 4 atau bahkan kurang mata pelajaran per harinya.

Berbanding terbalik dengan Amerika, rata-rata guru memiliki jam mengajar sebanyak 1080 jam pertahunnya atau setiap harinya guru di Amerika rata-rata mengajar enam atau lebih mata pelajaran. Di Finlandia Guru dan murid tidak diwajibkan untuk datang ke sekolah ketika memang tidak ada jadwal pelajaran. Sebagai contoh ketika tidak ada jam pelajaran pada siang hari, maka secara otomatis guru dan murid dapat meninggalkan sekolah terlebih dahulu, tanpa harus menunggu kelas lainnya yang masih memiliki pelajaran. Dengan sistem yang demikian membuat guru lebih leluasa untuk membuat rencana dan persiapan pembelajaran pada esok harinya.

Sedikit Guru = Lebih Konsisten dan Peduli Pada Muridnya
(Fewer Teachers = More Consistency and Care)

Murid Sekolah dasar di Finlandia akan selalu menemui guru yang sama. Selama 6 tahun anak-anak akan mendapatkan pelajaran dari guru yang sama. Mulai dari kelas satu sampai enam anak-anak akan bertemu dengan guru yang sama tidak diganti. Ini bertujuan agar guru lebih memahami setiap karakter anak didiknya. Guru nantinya akan peka pada setiap muridnya mengenai kendala dan masalah yang terjadi pada setiap individu di kelasnya, sehingga nantinya guru akan memberikan perlakuan yang berbeda pada murid yang mengalami kendala belajar.

Sistem ini sangat menguntungkan bagi guru, karena memudahkan guru untuk memahami kurikulum secara holistik. Guru akan mengetahui apa saja yang dia butuhkan saat pembelajaran di tahun selanjutnya, guru juga diberi kebebasan untuk mengelola kelasnya sendiri. Dengan pemberian kebebasan ini  guru  tidak merasa ada tekanan dan beban dari berbagai pihak,  karena guru lah yang mengkontrol kurikulumnya dan gurulah yang mengetahui bagaimana kondisi akademis dan mental para muridnya sehingga pada tahun selanjutnya guru dapat mempersiapkan strategi  cara menanggulangi permasalahan yang terjadi di kelasnya.

Finlandia Sedikit Menerima Guru
(Fewer Accepted Applicant to be Teacher)

Murid-murid akan berhadapan dengan guru yang sama selama enam tahun. Apakah guru tersebut memang memiliki kualifikasi mumpuni? Ya,memang di Finlandia khususnya untuk jabatan guru Sekolah Dasar tidak ingin mencari guru yang asal-asalan. Di Finlandia guru merupakan salah satu profesi yang sangat di idamkan. Guru Sekolah dasar merupakan salah satu profesi dengan tingkat kompetitif paling tinggi, setiap tahunnya sebanyak 1000 calon guru di tolak untuk memasuki jurusan guru Sekolah Dasar, karena hanya 10% dari jumlah pelamar jurusan guru sekolah dasar yang diterima. Bayangkan tentu yang terpilih merupakan orang-orang pilihan. Menjadi guru di Finlandia tidak hanya soal mempunyai kecerdasan yang mumpuni, tetapi untuk lolos ke jurusan guru sekolah dasar harus melalui serangkaian tahap interview dan tes kepribadian.

Finlandia juga menyadari bahwa kemampuan untuk mengajar bukan di peroleh dari secara mutlak dari belajar tetapi merekalah yang diberi bakat dan mempunyai passion di bidang pendidikan khususnya mengajar.  Beberapa Universitas di Finlandia yang membuka program pendidikan memastikan bahwa pendaftar yang melamar ke Universitas mereka merupakan orang-orang yang memiliki bakat mengajar
Untuk menjadi guru di Finlandia harus memiliki kualifikasi yang tinggi, terlatih dan memilik bakat mengajar.Maka tidak heran di Finlandia guru tidak boleh untuk mengajar di kelas, sebelum mereka menyelesaikan gelar master mereka dengan spesialisasi penelitian dan praktik mengajar. 

Kelas Sedikit: Banyak Istirahat
(Fewer Classes = More Breaks)

Seperti yang saya sampaikan di atas murid hanya memiliki tiga sampai 4 kelas/mata pelajaran perharinya. Meskipun jumlah kelasnya sedikit,  setiap kelas akan diselingi jam istirahat selama 10 sampai 20 menit . Pada masa istirahat ini merupakan kesempatan bagi para murid untuk memahami pelajaran yang telah mereka terima, masa istirahat pula dapat digunakan untuk menghirup udara segar dan bermain bersama teman sebaya agar mereka dapat kembali fokus mengikuti kelas selanjutnya.

Sedikit Murid=Perhatian ke Individu Menjadi Lebih
(Fewer Student = More Individual Atttention)

Guru di Finlandia setiap harinya memiliki kelas antara tiga hingga empat kelas dengan jumlah siswa perkelasnya hanya 20 murid. Jadi setiap harinya guru akan bertemu dengan murid berjumlah antara 60 sampai 80  murid perharinya. Dengan sedikitnya jumlah murid perkelasnya maka akan memudahkan guru untuk lebih memberikan perhatian dan kepedulian terhadap kebutuhan setiap murid yang tentunya memiliki banyak perbedaan. Bayangkan saja, jika jumlah kelas ada enam dengan jumlah anak perkelasnya antara 30-35 anak tentu ini sangat menyulitkan guru untuk mengelola kelasnya secara optimal, pembelajaran menjadi kurang memuaskan dan akan berdampak langsung pada hasil belajar murid yang kurang baik.

Struktur Bukan Menjadi Sistem = Lebih Pada Modal kepercayaan
 (Less Structure = More Trust)

Kunci keberhasilan pendidikan di Finlandia terletak pada kepercayaan bukan pada struktur.  Masyarakat menyekolahkan anaknya karena sekolah mampu memperoleh dan memperkerjakan guru yang baik.  Sekolah juga percaya bahwa guru yang mereka rekrut merupakan guru dengan individu yang sudah terlatih dan terampil. Hal ini didasarkan bahwa untuk menjadi guru di Finlandia harus melalui serangkaian tes baik segi akademik dan kepribadian dan wajib mengantongi gelar master pendidikan. Guru di beri kebebasan untuk mengelola dan menciptakan suasana yang terbaik khusus untuk para muridnya. Para keluarga di sini juga mempercayai bahwa guru akan memberikan yang terbaik untuk anak-anak mereka, agar mereka bisa belajar baik dan tumbuh secara optimal. Murid juga mempercayai gurunya karena saat guru memberikan pelajaran mereka sadar bahwa ilmu pengetahuan merupakan sesuatu yang berharga dan menjadi kunci kesuksesan di masa mendatang.







Monday, June 13, 2016

4 Resep Kunci Sistem Pendidikan Finlandia Menjadi yang Terbaik


finlandia

Seorang profesor dari Universitas Harvard yakni Howard Garner pernah menyarankan kepada Amerika tentang belajarlah dari Finlandia. Mengapa demikian, karena Finlandia merupakan salah satu negara dengan sistem pendidikan paling efektif di dunia. Predikat yang demikian memang tidaklah salah, Finlandia memang dikenal sebagai negara dengan catatan sejarah yang bagus khususnya untuk dunia pendidikan, 

Sebagai contoh Finlandia selalu menempati peringkat satu dunia pada program PISA. PISA sendiri merupakan suatu penilaian pendidikan yang dilakukan oleh suatu program yang menilai dari berbagai sisi mulai dari kemampuan menghitung, kemampuan membaca/literasi dan ilmu pengetahuan alam. Finlandia juga menempati urutan pertama dunia dalam hal kemampuan literasi. 

Apa yang menjadi resep keberhasilan Finlandia menjadi negara yang sukses dalam dunia pendidikan? Berikut ini penjelasannya

1. Pendidikan di Mulai Saat Anak Berusia 7 Tahun
Perlu diketahui bahwa murid tidak akan menerima pendidikan formal sebelum mereka menginjak usia 7 tahun. Pembelajaran di bawah umur 7 tahun ini lebih di isi pada kegiatan bermain, bernyanyi dan menggambar. Pemberian batas maksimum umur 7 tahun ini dimaksudkan supaya anak lebih siap saat menerima materi pelajaran. Jam belajar di Finlandia tidak terlalu lama  bahkan pemberian pekerjaan rumah juga angat jarang. 

2. Pemberian Jam Istirahat yang Banyak
Tidak seperti di Amerika yang kurang memberikan jam istirahat atau waktu luang pada muridnya, di Finlandia setiap sekolah memberikan waktu 15 menit untuk melakukan kegiatan outdoor misalnya bermain di taman. Perlu di catat bahwa pemberian waktu istirahat 15 menit ini di lakukan setiap pergantian mata pelajaran. Dengan memberikan waktu istirahat diharapkan murid dapat menghirup udara segar, diselingi dengan memberikan beberapa aktivitas fisik ringan yang membuat pikiran anak tidak terlalu stress saat mengikuti pelajaran yang selanjutnya

3. Penilaian yang Tidak Terlalu Ribet 
Soal penilaian, sekolah di Finlandia tidak membutuhkan biaya yang terlalu besar, pasalnya setiap siswa dinilai setiap hari melalui penilaian langsung, pemberian cheklist pada tiap poin nilai yang telah di buat dan kuis. Mungkin sangat berbeda jauh, saat murid melakukan hal-hal aneh selama pembelajaran. Namun, di Finlandia murid di perbolehkan untuk bersenang-senang bahkan tertawa saat pembelajaran berlangsung. Ini berpatokan bahwa dunia anak adalah dunianya bermain dan cara terbaik untuk belajar bagi seorang murid ialah melalui bermain. Iklim emosi juga dibuat lebih hangat, aman, tanggung jawab dan penuh sportivitas. 

4. Menjadi Guru di Finlandia Wajib Lulus S2

Di Finlandia profesi guru merupakan suatu profesi yang sangat menjanjikan, sehingga guru menjadi salah satu profesi idaman bagi warga finlandia di samping doktor. Untuk menjadi guru di Finlandia juga sangat tidak mudah, sebelum menjadi guru mereka harus melalui serangkaian tes untuk kuliah S1 bidang pendidikan. Bahkan hampir setiap tahun jurusan pendidikan selalu diburu. Namun, untuk lolos ke jurusan pendidikan harus melalui serangkaian tes supaya universitas mampu menghasilkan lulusan calon guru yang cakap dan profesional. 

Tidak semua Universitas di Finlandia yang boleh membuka program pendidikan, hal ini dilakukan supaya universitas mampu menyaring calon-calon guru unggulan, bukan hanya soal mencari keuntungan semata. Sebelum seorang guru mengajar di kelas, mereka harus terlebih dahulu menyelesaikan gelar master mereka terlebih dahulu. Ini menjadi syarat wajib menjadi guru di Finlandia, mereka harus mengambil S2 untuk spesialisai penelitian dan praktik mengajar. Setelah mereka menyelesaikan S2 barulah mereka boleh mengajar di kelas. Melanjutkan studi S2 ilmu mereka menjadi lebih mantap dan kaya ketika saat mengajar nanti.

Wednesday, June 8, 2016

Ubah Pembelajaran Satu Arah Supaya Siswa Lebih Cerdas dan Kritis

Ubah Pembelajaran Satu Arah


Pola pembelajaran satu arah atau dengan kata lain guru menerangkan di depan kelas, sementara siswa mendengarkan penjelasan guru dan mencatat penjelasan yang disampaikan. Metode pembelajaran yang demikian tidak lagi ampuh menunjang keberhasilan pendidikan. 

Sebaliknya, pendidikan perlu melibatkan berbagai peran aktif sejumlah pihak, seperti pengajar maupun peserta didik.Pada seminar yang bertema "Strategi dan Tantangan Penyiapan Pendidikan Abad 21" yang di adakan di kampus Universitas Gadjah Mada (UGM), Dekan Fakultas Pendidikan Monash University, Prof John Loughran, menyampaikan, pendidikan tidak boleh bersifat hanya satu arah. 

Pendidikan berkualitas bisa diperoleh dari berbagai kegiatan dan pegajaran yang saling terhubung. Pengajaran harus memengaruhi pembelajaran, dan pembelajaran harus memengaruhi pengajaran. Dalam hal ini kita melihat bahwa mengajar lebih dari sekadar memberi tahu, dan belajar lebih dari sekadar mendengarkan," paparnya

Saat mengajar pun, para guru harus menerapkan prinsip pendidikan yaitu prior knowledge, pemrosesan, pengaitan, metakogisi, penerjemahan serta sintesis. John menegaskan, guru harus memastikan pengetahuan awal (prior knowledge) siswanya tentang suatu materi. Hal ini penting untuk menentukan strategi pengajaran yang akan dipakai berdasarkan informasi tersebut.

Selain itu guru juga perlu untuk memperhatikan siswanya, bahwa siswa  tidak hanya menyerap dan menghafal informasi, tapi juga bisa memproses informasi secara baik. Dengan begitu, siswa akan bisa mengaitkannya dengan ide dan pengalaman sehari-hari mereka.

Prinsip metakognisi, kata John, bisa membantu siswa menganalisa tugas dan menemukan solusi. Dengan begitu, siswa diharapkan bisa menerapkan pengetahuan yang diperoleh dalam konteks berbeda dan menyusunnya dalam potongan-potongan informasi supaya menjadi kesatuan yang utuh.

Dia menambahkan, para guru bisa merangsang para siswanya untuk berpikir. Salah satunya dengan mengajukan sejumlah pertanyaan seperti "Bagaimana jika …?", "Apa yang kalian pikirkan mengenai…?", atau "Bagaimana cara…?"

Penting sekali untuk menciptakan kondisi belajar positif, misalnya dengan membangun suasana belajar kolaboratif, mendorong siswa mengungkapkan ide mereka, serta memacu siswa untuk memiliki rasa ingin tahu

Makin Kompetitif Penerima Beasiswa StuNed Kini Cuma 60 Orang


Makin Kompetitif Penerima Beasiswa StuNed Cuma 60 Orang

Jumlah mahasiswa Indonesia yang melanjutkan pendidikan di Belanda bisa meningkat sampai 15 persen per tahun. Secara otomatis, jalur beasiswa pun mulai susah diburu. Hal itu bisa dilihat dari salah satu program beasiswa yang difasilitasi oleh pemerintah Belanda, StuNed (Studeren in Nederland). Kalau tahun lalu, program ini meloloskan 103 penerima beasiswa, kini jumlahnya berkurang menjadi 60 penerima beasiswa.

Jumlah aplikasi yang masuk tiap tahunnya selalu menujukkan peningkatan. Beasiswa StuNed berbeda dengan kebanyakan program beasiswa yang mengharuskan calon penerima mengikuti tes wawancara dan membuat motivation letter, StuNed justru menghilangkan kewajiban itu. 

Sebagai gantinya, ada tiga pertanyaan yang harus dijawab peserta menggunakan kalimat berbahasa Inggris. Tiga pertanyaan yang menunjukkan motivasi kita, yaitu hubungan dengan karier, hubungan dengan bidang yang diinginkan, serta hubungannya dengan Indonesia. Masing-masing pertanyaan dijawab dengan maksimal 250 kata.

Untuk menjawab semua pertanyaan itu, memerlukan persiapan yang matang. Salah satu cara yang bisa dilakukan yakni dengan berdiskusi lewat forum dengan beberapa anggota yang pernah mengikuti seleksi penerima beasiswa luar negeri  atau kita dapat mencarinya secara mandiri di internet.

Menulis aplikasi untuk pendidikan harus ideal. Paling tidak, calon penerima beasiswa sudah paham ilmu apa yang diambilnya sehingga tahu hubungan dengan dunia karier, dan bagaimana berkontribusi pada negara kelak. Kalau paham, kita sendiri bisa menjelaskannya secara ringkas, jelas dan spesifik

Pendaftaran SM-3T Angkatan 6 Di Buka Dari 6 Juni Sampai 4 Juli 2016

                                          Pendaftaran SM-3T Angkatan 6

Kebutuhan akan sosok guru memang besar, terutama di daerah-daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal (3T). Guna memenuhi kebutuhan guru itu, para sarjana diajak mengabdikan diri untuk mengajar di daerah tersebut melalui program Sarjana Mengajar Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM-3T).

Jika kamu sarjana dan tertarik mengikuti program SM3T, maka pastikan kamu memenuhi berbagai syaratnya. Pelamar haruslah WNI serta memiliki gelar sarjana di bidang kependidikan dengan IPK minimal 3,00. Usia saat melamar maksimal 27 tahun, berbadan sehat, bebas narkotika, berkelakuan baik, belum menikah dan bersedia tidak menikah saat menjalani program ini, serta belum pernah mengikuti program SM-3T sebelumnya.

Program SM-3T sendiri merupakan program pengiriman sarjana kependidikan ke berbagai pelosok negeri khususnya di daerah terdepan, terluar dan tertinggal (3T). Selama setahun, mereka mengabdikan diri bertugas untuk mengajar serta mendidik para siswa. Selain itu, para guru SM3T juga didorong untuk memajukan sekolah di tempat mereka mengajar.

Ada puluhan program studi yang dibutuhkan dalam program SM-3T ini. Di antaranya adalah Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Pendidikan Sejarah, Pendidikan Bahasa Inggris sampai Pendidikan Seni Rupa. Pendaftaran mulai dibuka 6 Juni 2016 pukul 07.00 WIB dan akan ditutup pada 4 Juli 2016 pukul 23.59 WIB. Pendaftaran dilakukan secara online dengan melakukan pengisian borang, serta upload ijazah dan foto.

Pengumuman hasil seleksi administrasi dan jadwal tes online akan dilaksanakan pada 13 Juli 2016. Tes online akan serentak digelar pada 21 Juli 2016. Sementara itu, pengumuman hasil tes seleksi online dan undangan untuk wawancara LPTK pada 25 Juli 2016. Wawancara seleksi LPTK dilakukan pada 1-3 Agustus 2016.

Pengumuman bagi peserta yang lolos akan dilaksanakan pada 5 Agustus 2016. Peserta juga akan melakukan Prakondisi dan pelatihan pada 15 Agustus sampai 31 Agustus 2016. Peserta akan berangkat ke daerah yang dituju pada 1 September 2016.

Untuk informasi lebih jelasnya, kamu bisa cek di website resmi Ditjen Guru dan Tenaga Kependidikan berikut SM3T

Susahnya Guru Tingkatkan Skill Karena Beban Kerja Guru Yang Terlalu Berat


Beban Kerja Guru Terlalu Banyak

Guru dituntut selalu memiliki keterampilan baru. Dengan begitu, mereka bisa memberikan banyak ilmu dan pengetahuan kepada muridnya. Sayangnya, masih banyak guru belum mampu meng-upgrade berbagai keterampilan mereka.

Penyebab utama para guru kesulitan untuk mengembangkan kemampuan sebagai pengajar adalah beban kerja. Setiap minggu, mereka harus memenuhi beban 24 jam mengajar. Karena itu regulasinya, jadi para guru lebih mengedepankan prioritas itu dulu

Beban kerja tersebut membuat para guru kesulitan memenuhi kebutuhan untuk memperkaya kemampuan mereka. Pasalnya, memenuhi beban mengajar saja sudah memeras tenaga. Bayangkan dari fisiknya sudah lelah, kognitifnya juga sulit menerima. Jadi bagaimana mereka bisa berkembang

Menurut Co-Founder Pusat Studi Kebijakan Pendidikan (PSKP), Ifa Hanifah Misbach, salah satu solusi masalah ini adalah dengan mengubah regulasi 24 jam mengajar tersebut menjadi 18 jamnya itu tatap muka, tapi sisanya bisa dilakukan relasi dengan siswa melalui diskusi aktif. Karena membangun relasi dengan siswa itu kan penting. Tapi bagaimana mau membangun relasi, kalau gurunya sendiri sudah lelah.

Masalah lainnya yakni adalah selama ini kita hanya fokus pada regulasi pengajarannya tetapi tidak memperhatikan mental guru yang juga perlu diperbaiki. Menurutnya, keberadaan waktu untuk diri sendiri bagi seorang guru bisa meningkatkan mental mereka menjadi lebih baik.